| | |
| NEW YORK – Mudahnya mendapatkan pendidikan dan pelayanan kesehatan serta bisa berpenghasilan lebih membuat Anda menjadi bahagia. Beberapa negara di dunia mampu menyediakan hal tersebut. Tidak mengherankan jika Norwegia disebut sebagai negara paling membahagiakan di dunia. Dari Human Development Index 2011 yang dikeluarkan UNDP (United Nations Development Programme) dengan pengukuran dalam hal pendapatan, pendidikan, kesehatan, harapan hidup, ekonomi, kesetaraan gender, dan keberlangsungan hidup, Norwegia mendapat poin besar.Beberapa hal tersebut bisa dijadikan indikator sebuah kebahagiaan. ”Untuk lebih akurat, bisa kita katakan untuk mengukur kualitas dari hidup. Ini meliputi pendapatan, termasuk kebutuhan dasar seperti pendidikan dan kesehatan,” terang Surekha Subarwal,UN communications representative dari New Delhi. Dampak tingginya indeks dari indikator di atas adalah harapan hidup yang lebih lama, mampu menyimpan uang dan mendapatkan kemudahan akses dalam mendapatkan pendidikan serta kesehatan. Dengan mendapatkan harapan hidup yang lebih lama,mampu menyimpang uang, memperoleh kemudahan akses pendidikan serta kesehatan, akan membuat seseorang menjadi lebih bahagia. ”Ini lebih dari sekadarindekstradisionalyang hanya mengukur rata-rata pendapatan, kesehatan, dan pendidikan,” kata Adam Rogers, UN communications officer di Jenewa. Indeks yang diperoleh Norwegia sebagai pengukur kebahagiaan memang tinggi. Negara yang dihuni 4,9 juta orang ini memiliki pendapatan per kapita sekitar USD47.557 atau sekitar Rp405 juta per tahun. Selain itu, indeks pendidikan mencapai 0,985, sedangkan persoalan kesehatan sangat diperhatikan hingga usia harapan hidupnya mencapai 81,1 tahun. Beberapa negara lain yang juga dianggap paling membahagiakan (di bawah Norwegia) rata-rata memiliki indeks pendidikan, angka harapan hidup, dan pendapatan per kapita yang tinggi (lebih lengkap lihat info grafis). Norwegia, Australia, Selandia Baru, Belanda, dan beberapa negara lainnya memang bukan nama baru sebagai negara paling membahagiakan. Majalah Forbes yang melansir penelitian dari Legatum Institute (London) pada awal tahun lalu juga mengumumkan negara-negara paling membahagiakan yang hasilnya tak berbeda jauh. Indikator yang digunakan Legatum Institute pun hampir sama dengan UNDP,yaitu soal kesehatan, pendidikan, kebebasan berpendapat dan bermasyarakat, serta memiliki pendapatan lebih. Untuk mengeluarkan pemeringkatan tersebut, Legatum Institute meneliti persoalan ekonomi, kewirausahaan, pemerintahan, pendidikan, kesehatan, keamanan, kebebasan pribadi, dan social capital sebuah negara. Artinya, Legatum Institute tidak hanya menggunakan persoalan ekonomi sebagai ukuran kebahagiaan seseorang. ”Menggunakan ekonomi saja sebagai ukuran kesuksesan sebuah negara seperti hanya melihat laki-laki dari saldo tabungannya saja,”ungkap Peter Mendelson, mantan Menteri Ekonomi Inggris. Peter menambahkan agar pengukuran itu menjadi objektif dan subjektif, maka hendaknya tidak hanya tingkat pengangguran dan inflasi sebuah negara yang diukur, tapi juga bagaimana seseorang bekerja keras untuk mendapat pekerjaan dan bagaimana kerja keras mereka meng-gapai sebuah kesuksesan. Bagaimana dengan Indonesia? Negeri dengan 243 juta penduduk ini berada di peringkat ke-124 dari 187 negara. Untuk usia harapan hidup, Indonesia hanya 69,4 tahun. Dengan pendapatan per kapita USD3.716 atau sekitar Rp32 juta per tahun, indeks pendidikan Indonesia pada angka 0,584. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono mengungkapkan, dari tiga sektor,hanya pendidikan yang mendatar. ”Tren IPM Indonesia periode 1980–2011 naik dari 0,432 menjadi 0,917. Untuk indeks pendidikan,kesehatan, dan pendapatan per kapita, trennya juga terus naik, tetapi pada periode 2010–2011 tren pendidikan memperlihatkan kurva mendatar,” ujar Agung di Jakarta kemarin. Dia menjelaskan, tren IPM Indonesia mendekati tren dunia, tetapi tren IPM wilayah Asia-Pasifik lebih baik. Pada 2011 ini IPM Indonesia 0,617, adapun IPM Asia-Pasifik 0,671. ”Di Asia-Pasifik IPM Indonesia berada di urutan ke-12 dari 21 negara.IPM Indonesia masih di bawah rata-rata HDI Asia- Pasifik,”kata dia. Mengenai stagnannya sektor pendidikan, menteri dari Golkar ini menegaskan bahwa tren yang melandai perlu diubah menjadi tren yang menaik. Program peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan akan semakin dipacu, di antaranya program rehabilitasi gedung-gedung sekolah, penyempurnaan penyaluran dana Biaya Operasional Sekolah (BOS), serta peningkatan kualitas dosen dan guru. Perasaan Menerima Sementara itu dari sisi kejiwaan, kebahagiaan seseorang sangat relatif. Psikiater dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) dr Richard Budiman, SpKj, mengatakan yang terpenting untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan menumbuhkan perasaan menerima apa pun yang didapatkan dan diperoleh di dunia ini. ”Dan itu bukan hanya soal materi,” tuturnya ketika dihubungi harian Seputar Indonesia (SINDO). Richard mengungkapkan, dia banyak mengetahui orang-orang yang sebenarnya miskin dari segi pendapatan, tetapi hatinya selalu bahagia. Karena bahagia itu berasal dari diri kita sendiri, perasaan positif yang memberikan ketenteraman dan ketenangan hati. Meskipun berpenghasilan tidak seberapa, lanjut dia, banyak orang dapat merasa bahagia. Mungkin karena pekerjaan yang dilakoninya merupakan impian atau cita-citanya semenjak kecil. Atau merasa tertantang dengan segala tugas yang dibebankan di pundaknya sehingga apa pun yang dikerjakannya membuat dirinya bersemangat dan bergairah. ”Bahagia lebih banyak dipengaruhi oleh kejiwaan atau mental di mana seseorang merasa aman dan nyaman terhadap sesuatu yang dia dapat,” ujar Richard yang mengelola Sanatorium Dharmawangsa ini. Jika rasa bahagia itu ditujukan kepada warga sebuah negara, memang terbukanya akses pendidikan, kesehatan, serta lapangan kerja yang layak menjadi faktor dominan yang banyak dibutuhkan. Selain itu, terang Richard, faktor keamanan dan kesejahteraan juga menjadi indikasi kuat apakah seluruh warga negara sudah merasakan kebahagiaan atau belum dengan tinggal di sebuah negara. ”Setiap manusia ingin tinggal secara aman, nyaman, dan sejahtera tanpa konflik yang berkepanjangan. Selain itu ingin menjalankan pendidikan sebaik-baiknya dan merasakan akses layanan kesehatan sebesar-besarnya karena itu kebutuhan dasar manusia,” tandasnya. Dia menilai wajar jika penduduk Indonesia relatif masih kurang bahagia karena sejumlah kebutuhan dasar tersebut belum terpenuhi dengan sempurna oleh penguasa. Warga misalnya masih kesulitan untuk mengenyam bangku sekolah karena biaya yang tinggi atau kurang mendapatkan layanan yang optimal dari sarana kesehatan. djaka susila/rendra hanggara/robbi khadafi |
0 comments:
Post a Comment